blog ini saya buat untuk membahas mengenai teknik pertaian dan masalah masalah di dalamnya

Jumat, 12 Februari 2016

Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS), salah satu pusat penelitian di bawah koordinasi Lembaga
Riset Perkebunan Indonesia (LRPI),
menurut sejarahnya merupakan institusi penelitian dan pengembangan
perkebunan hasil ambil alih (nasionalisasi) dari Belanda pada tahun
Biodiesel Berbahan Baku
Minyak Kelapa Sawit
Bahan bakar minyak yang makin langka dan harganya yang terus
membubung mendorong berbagai pihak untuk melakukan penghematan
dan mencari bahan bakar alternatif. Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah
menghasilkan biodiesel berbahan baku minyak sawit (CPO), yang
berpeluang menjadi salah satu sumber energi alternatif.
1957. PPKS memiliki mandat melakukan penelitian komoditas kelapa
sawit dan berkedudukan di Medan.
Sejak awal abad 20, PPKS telah
menghasilkan berbagai teknologi
hulu, seperti klon-klon unggul dan
bahan tanaman yang saat ini dinikmati oleh pengguna secara luas.
Biodiesel dari minyak sawit, berpeluang sebagai sumber energi alternatif.

Dalam rangka memacu industri
kelapa sawit nasional, PPKS secara khusus sejak tahun 1992 mengembangkan biodiesel berbahan
baku minyak kelapa sawit mentah
(CPO). Saat ini, teknologi proses
pengembangan biodiesel dari CPO
telah dikuasai oleh PPKS, dan pilot
plant dengan kapasitas 1 ton/hari
sebagai sarana penelitian pun telah
dibangun. Pembangunan pilot plant
dengan kapasitas yang lebih besar,
yaitu 1 ton/jam atau 20 ton/hari
kini tengah dilakukan sebelum teknologi tersebut dikembangkan secara komersial.
Penelitian biodiesel dilakukan
pada berbagai kondisi proses, jenis
proses, bahan baku, dan bahan pendukung. Bahan baku biodiesel yang
diteliti semuanya berasal dari produk sawit, seperti CPO (crude palm
oil), RBDPO (refined bleached
deodorized palm oil), olein, stearin,
dan PFAD (palm fatty acid destilated) dalam berbagai kondisi dan
kualitas.  Bahan baku utama lainnya
adalah alkohol yaitu metanol dan
etanol. Bahan pendukung yang digunakan meliputi katalis asam, katalis basa atau tanpa katalis. Kondisi
proses yang diteliti meliputi variasi
suhu, waktu, dan tekanan. Jenis
proses yang dilakukan meliputi proses batch dan kontinu. Pilot plant
untuk proses batch memiliki kapasitas 1 ton/hari, sedangkan untuk
proses kontinu 30 liter/jam.
Penelitian biodiesel yang kini
tengah dilakukan antara lain adalah
penggunaan bahan baku PFAD,
injeksi langsung penggunaan olein,
biodiesel tanpa katalis dengan tekanan tinggi dan pilot plant pembuatan biodiesel etil ester. Pada masa
yang akan datang akan dilakukan
konversi pilot plant pabrik kelapa
sawit dengan proses batch kapasitas 1 ton/hari menjadi proses kontinu dengan kapasitas 500 liter/
jam. PPKS juga akan melakukan
penelitian peningkatan teknologi
kontrol proses, seperti otomatisasi
peralatan khususnya untuk pemisahan biodiesel dan gliserol.
Biodiesel produksi PPKS telah
diuji coba sejak tahun 2001 untuk
mesin-mesin pertanian dan kendaraan transportasi. PPKS juga
telah melaksanakan Seminar Internasional Biodiesel di Medan pada
tahun 2001. Pada akhir tahun 2004
telah dilakukan road test MedanJakarta dengan menggunakan B-10
pada kendaraan truk dan mobil.
Proses Pembuatan Biodiesel
Minyak Sawit
Bahan bakar diesel, selain berasal
dari petrokimia juga dapat disintesis
dari ester asam lemak yang berasal
dari minyak nabati. Bahan bakar
dari minyak nabati (biodiesel) dikenal sebagai produk yang ramah
lingkungan, tidak mencemari udara, mudah terbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui.
Pada umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak dengan
rantai karbon antara C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu
jenis minyak nabati yang mengandung asam lemak dengan rantai karbon C14-C20, sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan
sebagai bahan baku biodiesel. Di
PPKS, biodiesel dibuat melalui proses transesterifikasi dua tahap,
dilanjutkan dengan pencucian, pengeringan dan terakhir filtrasi, tetapi jika bahan baku dari CPO maka
sebelumnya perlu dilakukan esterifikasi.
Transesterifikasi
Proses transesterifikasi meliputi
dua tahap. Transesterifikasi I yaitu
Uji coba pemanfaatan biodiesel dari minyak sawit pada mesin pertanian pada
acara Pencanangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di Jatiluhur,
Jawa Barat.3
pencampuran antara kalium hidroksida (KOH) dan metanol (CH3
0H)
dengan minyak sawit. Reaksi transesterifikasi I berlangsung sekitar 2
jam pada suhu 58-65
°
C. Bahan yang
pertama kali dimasukkan ke dalam
reaktor adalah asam lemak yang
selanjutnya dipanaskan hingga suhu
yang telah ditentukan. Reaktor
transesterifikasi dilengkapi dengan
pemanas dan pengaduk. Selama
proses pemanasan, pengaduk
dijalankan. Tepat pada suhu reaktor 63
°
C, campuran metanol dan
KOH dimasukkan ke dalam reaktor
dan waktu reaksi mulai dihitung
pada saat itu.
Pada akhir reaksi akan terbentuk metil ester dengan konversi
sekitar 94%. Selanjutnya produk
ini diendapkan selama waktu tertentu untuk memisahkan gliserol
dan metil ester. Gliserol yang terbentuk berada di lapisan bawah
karena berat jenisnya lebih besar
daripada metil ester. Gliserol kemudian dikeluarkan dari reaktor agar
tidak mengganggu proses transesterifikasi II. Selanjutnya dilakukan
transesterifikasi II pada metil ester.
Setelah proses transesterifikasi II selesai, dilakukan pengendapan selama waktu tertentu agar
gliserol terpisah dari metil ester. Pengendapan II memerlukan waktu lebih pendek daripada pengendapan I
karena gliserol yang terbentuk relatif sedikit dan akan larut melalui
proses pencucian.
Pencucian
Pencucian hasil pengendapan pada
transesterifikasi II bertujuan untuk
menghilangkan senyawa yang tidak
diperlukan seperti sisa gliserol dan
metanol. Pencucian dilakukan pada
suhu sekitar 55
°
C. Pencucian dilakukan tiga kali sampai pH campuran menjadi normal (pH 6,8-7,2).
Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan air yang tercampur dalam
metil ester. Pengeringan dilakukan
sekitar 10 menit pada suhu 130
°
C.
Pengeringan dilakukan dengan cara
memberikan panas pada produk
dengan suhu sekitar 95
°
C secara
sirkulasi. Ujung pipa sirkulasi ditempatkan di tengah permukaan cairan
pada alat pengering.
Filtrasi
Tahap akhir dari proses pembuatan
biodiesel adalah filtrasi. Filtrasi bertujuan untuk menghilangkan partikel-partikel pengotor biodiesel yang
terbentuk selama proses berlangsung, seperti karat (kerak besi)
yang berasal dari dinding reaktor
atau dinding pipa atau kotoran dari
bahan baku. Filter yang dianjurkan
berukuran sama atau lebih kecil
dari 10 mikron.
Kendala
Pengembangan
dan Usulan
Kebijakan
Kendala dan hambatan dalam pengembangan biodiesel adalah biaya
penelitian yang cukup mahal, terutama biaya analisis
biodiesel untuk mengetahui apakah
biodiesel yang dihasilkan sudah memenuhi standar yang
ditetapkan. Proses
kontrol juga masih
Pilot plant biodiesel di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
menjadi kendala karena kesulitan
untuk mendapatkan instrumen
kontrol proses.
Kebijakan pemerintah dalam
hal bahan bakar nabati (BBN) dituangkan dalam Perpres No. 5 tahun
2006 tentang kebijakan energi
nasional dan Inpres No. 1 tahun
2006 tentang penyediaan dan
pemanfaatan bahan bakar nabati
(biofuels) sebagai bahan bakar lain.
Kebijakan ini merupakan payung
hukum dalam pengembangan BBN.
Namun demikian masih diperlukan
peraturan yang lebih detail tentang
jenis biodiesel untuk transportasi
dan untuk industri serta standar
mutu baku setiap jenis produk
biodiesel. Jaminan pasokan bahan
baku dan insentif bagi produsen dan
pengguna biodiesel, seperti pembebasan pajak pertambahan nilai biodiesel untuk jangka waktu tertentu
juga dapat mendorong pengembangan biodiesel (Luqman Erningpraja
dan Bambang Dradjat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar